Analisis Struktur dan Fungsi Tutunggulan di Desa Raharja: Kajian Struktur Pertunjukan dan Fungsi Folklor

Read full text
Authors: Rizki Muhamad Fakih, Cut Nuraini, Een Nurhasanah
Cited by: 0
References: 3

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berisi kajian mengenai struktur pertunjukan dan fungsi Tutunggulan di Desa Raharja menggunakan teori pertunjukan Sims dan Stephens serta teori fungsi folklor Dundes. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian didapatkan dari hasil observasi, dokumentasi, serta wawancara para pemain Tutunggulan di Desa Raharja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 dari 13 struktur pertunjukan Tutunggulan di Desa Raharja. 2 indikator tidak terdapat dalam pertunjukan Tutunggulan di Desa Raharja karena pertunjukan Tutunggulan di Desa Raharja bukan pertunjukan verbal, melainkan pertunjukan musik dan tidak terdapat teks dalam pertunjukannya. Selanjutnya terdapat 4 dari 6 indikator fungsi folklor yang terdapat pada pertunjukan Tutunggulan di Desa Raharja. 2 indikator yang tidak terpenuhi (1) memberi sanksi sosial dan hukuman agar orang berperilaku baik (2) sebagai sarana kritik sosial. Ditemukan juga pergeseran fungsi Tutunggulan yang bentuk awalnya sebagai aktivitas. ABSTRACT This study examines the structure and function of Tutunggulan performances in Raharja Village using Sims & Stephens' performance theory and Dundes' folklore function theory. The method used is descriptive analysis with a qualitative approach. Research data was obtained from observations, documentation, and interviews with Tutunggulan performers in Raharja Village. The results of the study show that 11 of the 13 performance structures of Tutunggulan in Raharja Village are present. Two indicators are not present in the Tutunggulan performance in Raharja Village because the Tutunggulan performance in Raharja Village is not a verbal performance but a musical performance and does not include text in its performance. Furthermore, 4 out of 6 indicators of folklore functions were found in the Tutunggulan performance in Raharja Village. The 2 indicators that were not fulfilled were (1) imposing social sanctions and punishments to encourage good behavior and (2) serving as a means of social criticism. A shift in the function of Tutunggulan was also found, from its original form as an activity of pounding rice to its current form as entertainment for the people of Raharja Village.

Fields of Study & Subjects

Arts and Performance Studies Cultural and Artistic Studies Folklore Mythology and Literature Studies

Publication details

Journal / source
Stilistika Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Volume
19
Issue
1
Pages
163–174
Publication date
26 January 2026
Language
ID