Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia
Abstract
Lansia beresiko tinggi mengalami Indeks Massa Tubuh (IMT) abnormal, yang umumnya disebabkan oleh penurunan aktivitas fisik mereka. Kondisi ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak, khususnya di area perut dan pinggul, berdampak negatif Gangguan keseimbangan dan kekuatan sendi meningkatkan risiko jatuh pada lansia; penelitian ini menganalisis hubungan IMT dan risiko jatuh di Desa Sempal Wadak dengan pendekatan kuantitatif korelasional cross-sectional pada lansia prolanis, dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut: (1) usia 60 tahun atau lebih, (2) peserta prolanis aktif, (3) bersedia menjadi responden secara sukarela, dan (4) mampu berkomunikasi secara verbal. Kriteria eksklusi meliputi: (1) kondisi akut yang memerlukan rawat inap, (2) gangguan kognitif berat (skor MMSE kurang dari 18), dan (3) data pengukuran tidak lengkap. Dengan menggunakan rumus Slovin, diperoleh 94 responden. Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Morse Fall Scale digunakan untuk menilai risiko jatuh di lansia. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,000 dan koefisien korelasi Spearman 0,000 (karena 0,000 < 0,05), menunjukkan adanya hubungan signifikan antara IMT dan risiko jatuh. Koefisien korelasi adalah 0,467, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi IMT seseorang, semakin besar risiko jatuh. Hal ini disebabkan oleh Kelebihan berat badan dan penurunan kekuatan otot mengganggu keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh. Lansia perlu lebih memperhatikan gaya hidup mereka, khususnya terkait asupan nutrisi dan aktivitas fisik
Fields of Study & Subjects
Methodologies in Health Research and Practice
Public Health and Nutrition
Student Stress and Coping
Publication details
- Journal / source
- Jurnal Keperawatan Aisyiyah
- Volume
- 12
- Issue
- 2
- Pages
- 2015–213
- Publication date
- 9 January 2026
- Language
- ID