Relasi Ulama Dan Umara Dalam Al-Qur’an
Abstract
Orang yang berwenang menyelenggarakan suatu sistem pemerintahan disebut pemimpin atau umara, sedangkan orang yang ahli dalam ilmu agama Islam disebut ulama, bentuk tunggal dari kata alim. Tentu saja peran ulama dalam menjalankan perannya sebagai umara adalah mendampingi, mengawasi, dan menasihati umara dalam kapasitasnya sebagai pemimpin bangsa. Umara dan ulama bersama-sama membangun bangsa dengan tujuan mewujudkan masyarakat sejahtera dan berkeadilan. Dalam penafsirannya terhadap QS. Yusuf: 47–49, Quraish Shihab menjelaskan mengapa Nabi Yusuf dan Raja Mesir bekerja sama dengan baik saat itu. Ini menunjukkan betapa pentingnya persahabatan mereka untuk diusung. Jadi memunculkan pertanyaan bagaimana relasi ulama dan umara? Jenis penelitian ini ialah deskriptif analisis, bila dilihat dari jenis penelitian ini bersifat riset kepustakaan (Library Research). Ulama mempunyai peran dan fungsi mereka sendiri, begitu pula dengan umara. Namun, keduanya saling berkaitan dalam hal-hal tertentu dan saling memperkuat, seperti dalam memecahkan masalah masyarakat melalui musyawarah, memperjuangkan keadilan, dan mencintai kebaikan. Temuan ini menunjukkan bahwa relasi antara ulama dan umara sebenarnya tidaklah berbeda secara mutlak, melainkan saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, pemisahan antara keduanya tidak selalu menghasilkan sekularisme. Ulama dan umara mungkin memiliki pemahaman yang berbeda, namun tetap memiliki hubungan yang erat.
Fields of Study & Subjects
Qur’anic Interpretation Studies
Medical Research and Islamic Perspectives
Islamic Studies and Radicalism
Publication details
- Journal / source
- Ushuly Jurnal Ilmu Ushuluddin
- Volume
- 5
- Issue
- 1
- Pages
- 1–17
- Publication date
- 5 January 2026