KOMUNITAS MANGROVE DI MANGROVE PARK DESA WORI, KABUPATEN MINAHASA UTARA
Abstract
ABSTRAK Penelitian ini menilai struktur komunitas mangrove di Mangrove Park Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara, sebagai dasar ilmiah pengelolaan konservasi berbasis masyarakat. Pengambilan data dilakukan dengan metode transek kuadrat, yaitu dua transek tegak lurus garis pantai dengan enam kuadrat berukuran 10 m x 10 m yang mewakili zona depan, tengah, dan belakang pada sisi kiri dan kanan lokasi. Parameter yang dianalisis meliputi komposisi spesies, kerapatan, frekuensi, penutupan, Indeks Nilai Penting (INP), serta indeks ekologi Simpson (D) dan Shannon-Wiener (H'). Identifikasi di lapangan menunjukkan dua spesies mangrove, Sonneratia alba dan Rhizophora apiculata. Sonneratia alba menjadi spesies dominan dengan kerapatan 0,26 ind/m2, penutupan 1,63 m2, dan INP 187,53, sedangkan Rhizophora apiculata ditemukan merata pada seluruh kuadrat (frekuensi = 1,00) dengan INP 112,47. Nilai indeks dominansi Simpson berada pada kategori sedang (D = 0,50) dan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener tergolong rendah (H' = 0,69), mencerminkan kekayaan spesies yang terbatas namun distribusi individu relatif seimbang. Secara ekologis, komunitas ini relatif stabil namun masih memiliki ruang untuk peningkatan diversitas melalui pengelolaan habitat. Temuan ini memperkuat pentingnya pemantauan struktur komunitas sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di Minahasa Utara. Kata kunci: komunitas mangrove, INP, indeks ekologi, Mangrove Park Desa Wori, Minahasa Utara ABSTRACT This study assesses mangrove community structure in Mangrove Park, Wori Village, North Minahasa Regency, to support evidence-based community conservation. Data were collected using a quadrat transect design: two transects perpendicular to the coastline with six 10 m x 10 m quadrats representing front, middle, and back coastal zones on both left and right sides of the site. Parameters included species composition, density, frequency, coverage, Important Value Index (IVI/INP), and ecological indices (Simpson D and Shannon-Wiener H'). Field identification recorded two mangrove species, Sonneratia alba and Rhizophora apiculata. Sonneratia alba was dominant with a density of 0.26 ind/m2, coverage of 1.63 m2, and INP of 187.53, while Rhizophora apiculata occurred in all quadrats (frequency = 1.00) with an INP of 112.47. Simpson dominance indicated moderate dominance (D = 0.50), and Shannon-Wiener diversity was low (H' = 0.69), reflecting limited richness but relatively balanced individual distribution. Ecologically, the community appears structurally stable yet low in diversity, suggesting room for enrichment while maintaining local dominance patterns. These findings provide a scientific basis for community-based mangrove management and long-term monitoring in North Minahasa. Keywords: mangrove community, Important Value Index, ecological indices, Mangrove Park Wori, North Minahasa 1) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Manado 95115 1. PENDAHULUAN Ekosistem mangrove merupakan komponen penting dari wilayah pesisir tropis yang menyediakan fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial yang saling terkait. Mangrove melindungi garis pantai dari abrasi, memperkuat stabilitas sedimen, dan menurunkan energi gelombang, sehingga berperan sebagai benteng alami bagi permukiman dan aktivitas ekonomi di pesisir (Akram et al., 2023). Selain fungsi proteksi, mangrove menyediakan habitat pembesaran dan pemijahan bagi banyak biota perairan pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi, terutama perikanan skala kecil. Dalam konteks global, mangrove juga dikenal sebagai ekosistem karbon biru yang menyimpan karbon tinggi pada biomassa dan sedimen (Bertram et al., 2021). Fungsi-fungsi tersebut menempatkan mangrove sebagai salah satu ekosistem kunci untuk ketahanan pesisir dan mitigasi perubahan iklim (Dinilhuda et al., 2018). Meskipun penting, mangrove menghadapi tekanan yang meningkat akibat alih fungsi lahan, pembangunan pesisir, polusi, dan eksploitasi yang tidak berkelanjutan (Akram et al., 2023). Di berbagai wilayah Indonesia, penurunan tutupan mangrove menyebabkan degradasi kualitas habitat dan hilangnya fungsi ekologis. Upaya rehabilitasi mangrove telah dilakukan di banyak lokasi, namun keberhasilannya sering dipengaruhi oleh kesesuaian spesies, kondisi lingkungan lokal, serta keterlibatan masyarakat (Bimrah et al., 2022). Oleh karena itu, pengelolaan mangrove berbasis bukti yang memerhatikan kondisi komunitas dan struktur vegetasi menjadi sangat penting. Indonesia memiliki keragaman mangrove yang tinggi, tetapi struktur komunitasnya bervariasi secara spasial. Beberapa lokasi menunjukkan dominansi kuat oleh spesies tertentu, sementara lokasi lain memiliki komposisi spesies yang lebih beragam (Noor et al., 2006). Variasi ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti salinitas, tekstur sedimen, dinamika pasang surut, dan sejarah gangguan. Di Sulawesi Utara, sejumlah penelitian melaporkan komunitas mangrove yang relatif sederhana dengan dominansi satu atau dua spesies utama (Rahman et al., 2020; Situmorang et al., 2021). Pola tersebut juga dilaporkan di wilayah lain di Indonesia timur, yang menunjukkan bahwa konteks lokal sangat menentukan struktur komunitas (Asman et al., 2020; Nurdiansah & Dharmawan, 2021). Analisis struktur komunitas merupakan dasar penting untuk memahami kondisi ekosistem. Parameter seperti kerapatan, frekuensi, dan penutupan menggambarkan kelimpahan dan dominansi spesies, sementara Indeks Nilai Penting (INP) memberikan ukuran komposit terhadap peran relatif setiap spesies (Fachrul, 2007). Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan indeks dominansi Simpson digunakan untuk menggambarkan keragaman dan pemerataan spesies yang sering dikaitkan dengan kestabilan ekosistem (Zakia et al., 2024). Dalam pedoman teknis pengelolaan mangrove di Indonesia, parameter-parameter ini direkomendasikan sebagai indikator dasar dalam evaluasi kondisi ekosistem (Bengen et al., 2022). Mangrove Park Desa Wori merupakan kawasan pesisir yang dikelola dengan pendekatan konservasi berbasis masyarakat dan dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Integrasi antara konservasi dan pemanfaatan ini membutuhkan data dasar yang kuat agar kegiatan manusia tidak mengurangi fungsi ekologis mangrove. Namun, informasi ilmiah mengenai struktur komunitas di lokasi ini masih terbatas. Tanpa data baseline, sulit untuk menilai perubahan jangka panjang, dampak aktivitas manusia, ataupun efektivitas program konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi komposisi spesies mangrove di Mangrove Park Desa Wori, (2) menghitung parameter struktur komunitas berupa kerapatan, frekuensi, penutupan, dan INP, serta (3) mengevaluasi indeks keanekaragaman dan dominansi sebagai indikator kondisi komunitas. Pertanyaan utama yang dijawab adalah: bagaimana dominansi spesies utama, seberapa merata distribusi individu antarspesies, dan apa implikasi ekologisnya bagi pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di Minahasa Utara. Hasil penelitian diharapkan memberikan landasan ilmiah untuk pengelolaan berkelanjutan dan menjadi referensi bagi studi lanjutan di kawasan pesisir lain. 2. METODE 2.1 Lokasi dan waktu studi Penelitian dilakukan di Mangrove Park Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Gambar 1). Lokasi ini merupakan kawasan pesisir yang dikelola dengan prinsip konservasi berbasis masyarakat dan memiliki akses wisata edukasi. Secara umum, kawasan mangrove dapat dibagi menjadi zona depan yang lebih terpapar pasang surut dan gelombang, zona tengah yang relatif stabil, serta zona belakang yang lebih terlindung. Variasi zonasi ini memengaruhi distribusi spesies dan ukuran individu, sehingga penempatan kuadrat mempertimbangkan perbedaan zona. Gambar 1. Lokasi penelitian, Desa Wori Minahasa Utara 2.2 Desain pengambilan sampel Pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat yang umum digunakan dalam studi komunitas mangrove karena mampu menangkap variasi struktur vegetasi secara kuantitatif (Fachrul, 2007; Bengen et al., 2022). Dua transek ditarik tegak lurus dari garis pantai menuju daratan. Pada setiap transek ditempatkan tiga kuadrat berukuran 10 m x 10 m sehingga total terdapat enam kuadrat. Kuadrat ditempatkan pada tiga zona pesisir (depan, tengah, belakang) di sisi kiri dan kanan lokasi. Desain ini memberikan representasi spasial yang memadai terhadap variasi struktur komunitas di kawasan studi. 2.3 Pengukuran dan identifikasi Identifikasi spesies dilakukan di lapangan berdasarkan karakter morfologi vegetatif menggunakan panduan pengenalan mangrove Indonesia (Noor et al., 2006). Dalam setiap kuadrat, seluruh individu mangrove dicatat jumlahnya per spesies. Keberadaan spesies pada kuadrat digunakan untuk menghitung frekuensi kemunculan. Ukuran lingkar batang dicatat untuk mendukung estimasi penutupan sebagai indikator dominansi struktur. Pengukuran dilakukan secara konsisten pada seluruh kuadrat agar data antarzona dapat dibandingkan. 2.4 Analisis data Kerapatan jenis dihitung sebagai jumlah individu per satuan luas kuadrat, dengan rumus Di = ni/A, di mana ni adalah jumlah individu spesies ke-i dan A adalah luas kuadrat. Frekuensi dihitung sebagai proporsi kuadrat yang ditempati spesies terhadap total kuadrat, Fi = qi/Q, di mana qi adalah jumlah kuadrat yang ditempati spesies dan Q adalah jumlah kuadrat keseluruhan. Penutupan jenis dihitung berdasarkan kontribusi ukuran batang atau luas penutupan relatif dalam kuadrat. Kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan penutupan relatif (PR) dihitung untuk setiap spesies. Indeks Nilai Penting (INP) diperoleh dari penjumlahan KR, FR, dan PR, yang menggambarkan peran relatif spesies dalam komunitas (Fachrul, 2007; Bengen et al., 2022). Indeks dominansi Simpson dihitung dengan D = sum(pi^2), sedangkan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dihitung dengan H' = -sum(pi ln pi), di mana pi adalah proporsi individu spesies ke-i terhadap
Fields of Study & Subjects
Coastal wetland ecosystem dynamics
Forest Ecology and Conservation
Marine and Coastal Ecosystems
Publication details
- Journal / source
- Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
- Publication date
- 20 January 2026