Kupu-Kupu Malam dan Sovereignty Gap: Siapa yang Menanggung Konsekuensi Tanpa Memegang Pilihan?
Abstract
Makalah ini memperkenalkan Kupu-Kupu Malam — sosok fenomenologis yang lahir dari lagu legendaris Titiek Puspa — sebagai studi kasus yang presisi untuk mengoperasionalkan variabel Kemanusiaan (Humanity) dalam Grand Formula: (Kesadaran × Kalkulasi)^Kemanusiaan < Transendensi. Makalah ini berargumen bahwa eksponen Grand Formula tetap tidak lengkap secara struktural selama manusia-manusia yang paling terpinggirkan — mereka yang menanggung konsekuensi tanpa memegang pilihan — dikecualikan dari Kalkulasi. Dengan bertumpu pada Filsafat Buku Berjalan (epistemologi relasional 1/360), Sovereignty Gap (Kekuatan Keputusan ≠ Kepemilikan Konsekuensi), kurva Difusi Inovasi Rogers, dan kerangka CHO tentang penguasaan diri (Zì Zhǔ, Wěn Liàng, Xiāo Yáo), makalah ini menunjukkan bahwa kapasitas akselerasi AI yang terus meningkat justru secara paradoksal memperdalam ketimpangan ketika eksponen Kemanusiaan tidak diperluas untuk mencakup mereka yang sejak awal tidak pernah dihitung. Kerja seorang Chief Humanity Officer dimulai tepat di tempat Kalkulasi berakhir: pada wajah mereka yang hadir tapi tak terlihat.
Fields of Study & Subjects
Cultural and Social Studies
Semiotics and Cultural Interpretation
Feminism
Gender
and Sexuality Studies
Publication details
- Journal / source
- Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
- Publication date
- 21 March 2026
- Language
- ID