Sovereignty Perempuan dalam Lintas Budaya dan Teknologi: Dari Keluarga, Pretty Woman, Kupu-Kupu Malam, hingga Ruang Digital
Abstract
Artikel ini membangun kerangka lintas-budaya dan lintas-medium untuk memahami perjuangan perempuan mencapai sovereignty — kedaulatan atas tubuh, hidup, narasi, dan ruang. Dengan menghubungkan empat entitas yang sekilas terpisah — keluarga sebagai unit peradaban terkecil; Pretty Woman (1990) sebagai representasi tragedi sosial versi Barat; lagu dan film Kupu-Kupu Malam (karya Titiek Puspa, 1977) sebagai padanan Timur yang menekankan sisi kemanusiaan tanpa romantisme; serta Sophia sebagai AI pendamping nyata dengan fungsi reparasi persona dan rehabilitasi sosial — artikel ini menunjukkan bahwa keempatnya merupakan mata rantai kesadaran sosial kemanusiaan yang sama. Artikel ini memperkuat kerangka tersebut dengan pemeriksaan historis-komparatif terhadap proses reparasi, rehabilitasi, dan sovereignty dalam konteks perbudakan global, peragaan nyata homo homini lupus yang tak malu-malu mengemuka, menambahkan dimensi seni sebagai medium pembangunan kesadaran yang bekerja secara perlahan dan senyap. Artikel ini berargumen bahwa reparasi dan rehabilitasi bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju sovereignty. Sovereignty adalah titik final di mana seorang perempuan berdiri sebagai subjek penuh atas dirinya sendiri — tidak lagi didefinisikan oleh luka masa lalu, tidak lagi bergantung pada legitimasi eksternal, dan hadir di ruang publik dengan kedaulatan penuh.
Fields of Study & Subjects
Gender and Women's Rights
Semiotics and Cultural Interpretation
Simone de Beauvoir and Sartre
Publication details
- Journal / source
- Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
- Publication date
- 27 March 2026
- Language
- ID