Efek Penghangat Kombinasi Forced Air Warmer dan Survival Thermal Blanket Terhadap Suhu Tubuh dan Kejadian Hipotermia Intraoperasi pada Pasien Geriatri

Read full text
Authors: Eddy Harijanto, Susilo Chandra, M. Taufik Anwar, Vincent Christianto
Cited by: 0
References: 11

Abstract

Pendahuluan: Hipotermia intraoperatif memengaruhi luaran pembedahan pasien geriatri. Meskipun forced air warmer saat ini telah umum digunakan, tetapi efek kombinasinya dengan survival thermal blanket dalam mempertahankan suhu tubuh belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi survival thermal blanket dan forced air warmer dengan underbody conduction mat yang menggunakan penutup kain dalam mencegah hipotermia. Metode: Uji acak tersamar tunggal dua lengan pararel dilaksanakan di RSCM (April–Mei 2022) pada pasien geriatri (≥60 tahun, ASA I–III) yang menjalani anestesi umum. Subjek secara acak dialokasikan ke dalam kelompok forced air warmer Bair Hugger 505® dengan selimut mylar, dan kelompok underbody conduction mat Blanket Roll® dengan satu lapis kain draping. Suhu membran timpani diukur saat masuk ruang penerimaan. Suhu nasofaring, kejadian hipotermia intraoperasi, dan menggigil pascaoperasi intraoperatif dicatat dan dianalisis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 23 dengan signifikansi p 0,05). Simpulan: Survival thermal blanket pada forced air warmer mampu menghangatkan suhu tubuh lebih baik dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat. Namun kejadian hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan.

Fields of Study & Subjects

Thermal Regulation in Medicine Thermoregulation and physiological responses Anesthesia and Sedative Agents

Publication details

Journal / source
Majalah Anestesia & Critical Care
Volume
44
Issue
1
Pages
4–15
Publication date
27 February 2026
Language
ID