Pengendalian Vektor Secara Hayati; Terminologi, Teori, dan Aplikasinya

Read full text
Authors: Hardina Cita Rani
Cited by: 0

Abstract

Penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan filariasis masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Upaya pengendalian vektor selama ini cenderung bergantung pada penggunaan insektisida kimia, yang dapat menimbulkan dampak negatif berupa resistensi vektor, pencemaran lingkungan, serta gangguan terhadap organisme non-target. Sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, pengendalian vektor secara hayati dikembangkan dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasit, dan mikroorganisme yang mampu menekan populasi vektor secara alami. Agen hayati yang umum digunakan antara lain ikan pemakan jentik (Gambusia affinis, Poecilia reticulata), bakteri Bacillus thuringiensis israelensis (Bti), jamur entomopatogen (Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana), serta bakteri Wolbachia yang dapat menghambat transmisi virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti. Pendekatan pengendalian ini dilaksanakan melalui konsep Integrated Vector Management (IVM) yang menekankan keseimbangan antara efektivitas, keamanan lingkungan, dan partisipasi masyarakat. Pemerintah Indonesia mendukung penerapan metode hayati melalui Permenkes No. 374 Tahun 2010 tentang Pengendalian Vektor dan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Penyakit Tular Vektor 2020–2024. Penerapan pengendalian hayati terbukti mampu menurunkan populasi vektor secara bertahap, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis. Dengan demikian, pengendalian vektor secara hayati merupakan strategi efektif dan ramah lingkungan yang mendukung upaya pengendalian penyakit tular vektor secara berkelanjutan di Indonesia.

Fields of Study & Subjects

Dengue and Mosquito Control Research Entomopathogenic Microorganisms in Pest Control Mosquito-borne diseases and control

Publication details

Journal / source
Penerbit Health Science UDINUS
Volume
2
Issue
1
Publication date
2 February 2026