BELAJAR MATEMATIKA DARI BUDAYA LOKAL: PENGENALAN SATUAN UKUR TRADISIONAL BAGI SISWA SEKOLAH DASAR
Abstract
Pembelajaran matematika yang bermakna menuntut adanya keterkaitan antara konsep abstrak dengan pengalaman nyata siswa. Salah satu pendekatan yang relevan untuk mencapai tujuan tersebut adalah integrasi matematika dengan budaya lokal. Matematika pada hakikatnya tidak terpisah dari kehidupan manusia melainkan berkembang seiring dengan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Budaya lokal sebagai konstruksi sosial yang dinamis mencakup sistem nilai, norma, pengetahuan, dan praktik kehidupan yang dapat dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran. Kegiatan pengabdian ini menelaah pentingnya integrasi satuan ukur tradisional dalam pembelajaran matematika sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Satuan ukur tradisional seperti suku dalam pengukuran emas, tumbuk dalam pengukuran tanah serta canting dan gantang dalam pengukuran beras digunakan sebagai contoh penerapan konsep matematika formal. Konversi satuan emas suku ke satuan baku gram () dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan konsep bilangan desimal dan nilai tempat secara kontekstual. Satuan tumbuk mendukung pemahaman konsep luas dan perkalian, sedangkan canting dan gantang membantu siswa memahami perbedaan satuan baku dan tidak baku serta konserp konversi satuan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa pemanfaatan satuan ukur tradisional tidak hanya memperkuat pemahaman konseptual matematika, tetapi juga menumbuhkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal serta meningkatkan keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
Fields of Study & Subjects
Mathematics Education and Pedagogy
History and Theory of Mathematics
Mathematics Education and Teaching Techniques
Publication details
- Journal / source
- Jurnal Pengabdian Indonesia (JPI)
- Volume
- 2
- Issue
- 1
- Pages
- 582–591
- Publication date
- 31 January 2026