MAKNA THUMA’NINAH DALAM AL-QUR’AN PRESPEKTIF MUFASSIRIN

Authors: - MHD. HADI WAHYUDI
Cited by: 0

Abstract

Ketenangan merupakan tujuan utama kehidupan manusia, namun dalam konteks modern sering dipahami secara materialistik dan bersifat sementara. Pandangan tersebut kerap menimbulkan kegelisahan batin dan krisis makna hidup. Islam menawarkan konsep kebahagiaan yang lebih mendalam melalui ketenangan jiwa (ṭuma’nīnah), sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna ṭuma’nīnah dalam al-qur’an menurut perspektif para mufassirin kontemporer, yaitu Sayyid Qutb, Wahbah az-Zuhaili, dan Buya Hamka, serta menelaah relevansinya dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir tematik (mawḍū‘ī). Data utama bersumber dari Al-Qur’an dan kitab tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān, Tafsīr al-Munīr, dan Tafsir al-Azhar. Analisis dilakukan dengan mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan, kemudian membandingkan penafsiran para mufassirin secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mufassirin sepakat memandang ṭuma’nīnah sebagai kondisi jiwa yang tenang karena iman, dzikrullah, dan ketundukan kepada Allah. Sayyid Qutb menekankan dimensi spiritual dan eksistensial, Wahbah az-Zuhaili menekankan keseimbangan iman dan syariat, sementara Buya Hamka menekankan pendekatan humanis dan kontekstual. Dengan demikian, ṭuma’nīnah merupakan inti kebahagiaan sejati yang bersifat spiritual dan berkelanjutan. Kata kunci: Ṭuma’nīnah,, Tafsir Al-Qur’an, Mufassirin.

Fields of Study & Subjects

Qur’anic Interpretation Studies Islamic Thought and Society Studies Education and Islamic Studies

Publication details

Journal / source
Analisis Harga Pokok Produksi Rumah Pada (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Publication date
1 January 2026
Language
ID
Document type
Thesis