Policy Formulation for Enhancing Technology Adoption in the Indonesian Textile and Textile Product Industry
Abstract
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia mengalami penurunan daya saing yang signifikan, tercermin dari penurunan ekspor, kontribusi terhadap PDB, pangsa pasar dunia, jumlah tenaga kerja serta rendahnya daya saing. Lemahnya adopsi teknologi yang ditandai dengan 80% mesin berusia lebih dari 20 tahun diidentifikasi menjadi salah satu penyebab penurunan kinerja industri ini. Namun, indikator berbasis jumlah mesin tua ini memiliki kelemahan fundamental karena data yang bergerak seiring waktu, tidak menjelaskan tingkat kecanggihan dan jaraknya dengan teknologi tercanggih saat ini serta sulit dikomparasikan dengan pesaing. Oleh karena itu, disertasi ini menjadi diagnostic research untuk menjernihkan akar persoalan adopsi teknologi pada industri TPT dengan ukuran kuantitatif, komprehensif dan mampu dikomparasikan dengan pesaing. Penelitian ini juga bertujuan mengukur dampak dari adopsi teknologi canggih pada berbagai dimensi terhadap produktivitas, ekspor, partisipasi dalam global value chain (GVC) dan tenaga kerja serta faktor pendorong dan penghambatnya sehingga menjadi dasar formulasi kebijakan peningkatan adopsi teknologi secara sistematis. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2024 sampai dengan Juli 2025 dengan melibatkan 377 industri tekstil dan produk tekstil sebagai sampel penelitian Metode utama yang digunakan adalah Firm level adoption technology (FAT) Survei, yang memungkinkan pengukuran tingkat kecanggihan teknologi pada fungsi bisnis umum/general business function (GBF) dan teknologi produksi disebut sector-specific business function (SBF) serta memisahkan indeks antara akuisisi yang disebut margin ekstensif (EXT) dan utilisasi yang disebut margin intensif (INT). Metode ini juga memungkinkan komparasi indeks teknologi dengan negara pesaing yang sulit dilakukan dengan metode lain. Sedangkan metode yang digunakan untuk mengukur dampak dari berbagai dimensi teknologi tersebut terhadap produktivitas, ekspor, partisipasi GVC dan tenaga kerja menggunakan regresi ordinary least square (OLS), Probit dan serta instrumental variabel (IV). . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi industri TPT Indonesia masih berada pada level menengah untuk teknologi tercanggih pada fungsi bisnis umum (GBF EXT) dengan indeks teknologi sebesar 2,45 dan level yang lebih rendah untuk penggunaan teknologi pada margin intensif (GBF INT) yaitu 1,74. Indeks ini menunjukkan bahwa sebagian besar teknologi di fungsi bisnis umum mengandalkan software standar menuju terintegrasi, namun penggunaan rutinnya masih terbatas dan masih mengandalkan software standar excel. Demikian juga indeks teknologi pada fungsi produksi yaitu SBF EXT dan INT di sektor tekstil sebesar 2,11 dan 1,72 serta di pakaian jadi 2,2 dan 1,75 yang menunjukkan walaupun beberapa perusahaan telah mengadopsi teknologi canggih, sebagian besar teknologi produksi masih mengandalkan mesin yang dikendalikan oleh operator. Indeks teknologi pakaian jadi Indonesia berada di bawah negara pesaing yaitu Vietnam dan Bangladesh maupun Korea Selatan sebagai perbatasan teknologi. Penelitian ini juga memberikan temuan penting bahwa penggunaan rutin teknologi canggih pada proses produksi (SBF INT) memberikan pengaruh paling tinggi dan signifikan terhadap peningkatan produktivitas, diikuti akuisisi teknologi produksi canggih (SBF EXT). Sedangkan, perusahaan dengan penggunaan rutin teknologi canggih pada fungsi bisnis umum (GBF INT) memberikan pengaruh paling besar terhadap probabilitas masuk pasar ekspor, namun ketika perusahaan telah memasuki pasar ekspor dan meningkatkan intensitasnya dampak paling besar terjadi pada akuisisi teknologi produksi (SBF EXT). Akuisisi dan penggunaan rutin teknologi canggih pada fungsi produksi (SBF EXT dan SBF INT) juga terbukti signifikan meningkatkan partisipasi dalam GVC khususnya melalui backward linkage. Namun, efek teknologi terhadap forward linkage tidak konsisten dan tidak signifikan, karena rendahnya partisipasi forward linkage industri TPT Indonesia. Di sisi lain, pengaruh teknologi terhadap pasar tenaga kerja tidak signifikan secara statistik, sehingga menghilangkan kekhawatiran pengurangan tenaga kerja ketika dilakukan intervensi untuk peningkatan teknologi di sektor ini. Tekanan kompetisi dari pasar domestik maupun internasional menjadi pendorong utama bagi sebagian besar perusahaan dalam mengadopsi teknologi. Program restrukturisasi juga terbukti mendorong peningkatan adopsi teknologi produksi (SBF EXT maupun SBF INT). Di sisi lain, kendala finansial merupakan hambatan paling dominan yang dirasakan oleh perusahaan di semua skala, diikuti oleh ketidakpastian permintaan pasar. Kebaruan penelitian ini antara lain: menjadi studi yang menyediakan framework pengukuran khusus untuk industri tekstil dengan SBF tekstil, sehingga memperluas aplikasi metode FAT-Survei dan mengaplikasikannya dengan pengukuran tingkat adopsi teknologi sektor tekstil di Indonesia. Selain itu, pengukuran dengan FAT-Survei juga pertama kali dilakukan di Indonesia sehingga melengkapi pengukuran sebelumnya di 16 negara. Disertasi ini juga memperkenalkan pengujian kausalitas dua arah antara empat dimensi adopsi teknologi hasil FAT-survei dengan variabel makro seperti ekspor, GVC, dan produktivitas, serta mengintegrasikan pendekatan ekonometrik dengan instrumental variable untuk mengatasi masalah endogenitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya reformulasi kebijakan adopsi teknologi pada industri TPT berbasis bukti kuantitatif, dengan merekomendasikan pergeseran indikator program restrukturisasi menjadi indeks teknologi, sektor prioritas untuk mengejar ketertinggalan teknologi dan meningkatkan produktivitas adalah tekstil terutama pertenunan, perajutan, dyeing dan finishing. Indeks teknologi yang rendah untuk margin intensif (INT) juga menunjukkan pentingnya fasilitasi pendampingan kesiapan dan kapabilitas manajemen, SDM, inovasi produk dan proses, agar teknologi canggih terintegrasi rutin melalui technology extension service (TES) untuk meningkatkan adopsi teknologi pada fungsi produksi (SBF) dan business advisory services (BAS) untuk fungsi bisnis umum. Selain itu, penting juga mendorong investasi asing, insentif ekspor, penguatan R&D dan perbaikan supply chain sebagai pendukung peningkatan adopsi teknologi.
Fields of Study & Subjects
Global trade and economics
Economic Growth and Productivity
Global Trade and Competitiveness
Publication details
- Journal / source
- IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
- Publication date
- 1 January 2026
- Language
- ID