Potential of Endophytic Bacteria for Controlling Bean common mosaic virus strain Blackeye cowpea (BCMV-BlC) and Aphis craccivora Koch. on Yardlong Bean.
Abstract
Bean common mosaic virus strain Blackeye cowpea (BCMV-BlC) dan vektornya, Aphis craccivora Koch, merupakan salah satu kendala utama dalam produksi kacang panjang di Indonesia. Pengelolaan virus tular serangga umumnya secara kimiawi untuk mengendalikan serangga vektor virus untuk menekan penularan dan penyebaran virus. Pengelolaan hama dan penyakit saat ini perlu dipilih cara yang aman bagi lingkungan dan berkelanjutan. Potensi bakteri endofit untuk mengendalikan patogen cendawan, nematoda, dan bakteri telah banyak dilaporkandiantaranya AC112 (Bacillus toyonensis), APE35 (B. siamensis), dan BAT27 (B. toyonensis). Namun, potensi pemanfaatan bakteri endofit untuk mengendalikan infeksi virus dan vektornya masih belum banyak diteliti. Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi bakteri endofit dalam menekan penularan dan infeksi BCMV-BlC serta serangga vektornya A. craccivora Koch. Penelitian ini terdiri dari tiga percobaan utama; Perbanyakan inokulum BCMV-BlC, bakteri endofit (BE), kutu daun, (1) Kemampuan bakteri endofit terhadap pertumbuhan benih kacang panjang. Benih kacang panjang direndam dengan isolat APE35, BAT27, AC112, LCA19, dan kontrol. Perlakuan yang diuji menggunakan kerapatan 108 CFU mL-1 Peubah yang diamati daya berkecambah dan indeks vigor. (2) Efikasi bakteri endofit (BE) dalam menghambat penularan BCMV-BlC dengan kutu daun. Perlakuan yang diuji menggunakan kerapatan 108 CFU mL-1 isolat APE35, BAT27, AC112, dan LCA19, kontrol sehat dan kontrol sakit tanpa BE. Perlakuan BE terdiri dari perendaman benih dan penyemprotan daun. Peubah yang diamati terdiri dari peubah penyakit termasuk titer virus dan aktivitas enzim polifenol oksidase (PPO). Peubah agronomi yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah daun dan kadar klorofil a dan b. (2) Pengaruh bakteri endofit terhadap mortalitas dan preferensi makan kutu daun. Sebanyak 25 imago kutu daun diinfestasikan ke daun kacang panjang sehat dan diletakkan dalam cawan petri, kemudian kutu daun disemprot suspensi BE dan kontrol disemprot akudes steril. Peubah yang diamati persentasi mortalitas kutu daun. Preferensi makan 25 ekor kutu daun diuji dengan metode choice test. Peubah yang diamati jumlah kutu daun pada tanaman uji setelah infestasi 1, 3, 6, dan 12 jam. (3) Pengaruh BE terhadap kemampuan kutu daun generasi ke-3 dalam menularkan BCMV-BlC. BE diaplikasikan dengan perlakuan benih dan penyemprotan daun. Kutu daun dipelihara pada tanaman perlakuan dan kontrol tanpa BE. Imago kutu daun dari generasi ke-3 diberi makan akuisisi dan makan inokulasi pada tanaman sehat. Peubah yang diamati insidensi, waktu inkubasi, keparahan penyakit dan titer virus. Perlakuan BE meningkatkan perkecambahan dan indeks vigor benih kacang panjang. Semua perlakuan bakteri endofit dapat meningkatkan pertumbuhan dengan perlakuan terbaik isolat B. siamensis-APE35 dan B. toyonensis-BAT27 dibandingkan kontrol. Efikasi BE untuk mengendalikan BCMV-BlC melalui A. craccivora mampu menekan transmisi virus dengan memperpanjang masa inkubasi, menyebabkan gejala yang lebih ringan, serta menurunkan titer virus dibandingkan kontrol tanpa perlakuan. Perlakuan B. toyonensis-AC112 dan B. toyonensis-BAT27 terbukti efektif dalam menghambat kutu daun menularkan BCMV-BlC yang dibuktikan dengan titer virus terdeteksi positif BCMV pada kutu daun, namun negatif terdeteksi negatif BCMV pada tanaman. Perlakuan bakteri endofit meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menginduksi enzim PPO serta peningkatan total kadar klorofil dibandingkan kontrol sakit tanpa perlakuan. Semua isolat bakteri endofit menunjukkan efek insektisidal terhadap kutu daun dengan mortalitas berkisar 31%-49%, tergantung spesies bakteri endofit. Diantara BE, isolat B. toyonensis-BAT27 menyebabkan mortalitas kutu daun tertinggi sebesar 49% pada 48 jam setelah perlakuan. Pengujian choice test, menunjukkan bahwa jumlah kutu daun pada tanaman kacang panjang yang diberi perlakuan bakteri endofit nyata lebih sedikit dibandingkan kontrol. Namun, antar perlakuan BE tidak berbeda nyata; semua isolat bakteri endofit berpengaruh terhadap preferensi makan kutu daun sejak awal perlakuan. Kutu daun generasi ketiga yang dipelihara pada tanaman perlakuan bakteri endofit menurunkan kemampuannya menularkan BCMV-BlC. Hal ini ditunjukkan dari masa inkubasi lebih lama, insidensi, keparahan penyakit dan titer virus lebih rendah. Perlakuan bakteri endofit menurunkan efisiensi kutu daun dalam mengakuisisi dan mentransmisikan virus ke tanaman. Titer virus perlakuan B. toyonensis-BAT27 terdeteksi negatif BCMV-BlC pada tanaman, namun terdeteksi positif BCMV pada kutu daun, hal ini mengindikasikan B. toyonensis-BAT27 mampu menghambat kutu daun menularkan virus karena aktivitas antifeedant yang kuat menghambat makan inokulasi pada tanaman.
Fields of Study & Subjects
Plant-Microbe Interactions and Immunity
Insect symbiosis and bacterial influences
Entomopathogenic Microorganisms in Pest Control
Publication details
- Journal / source
- IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
- Publication date
- 1 January 2026
- Language
- ID
- Document type
- Thesis