The Role of Information Communication Technology and Group Leadership in Strengthening the Independence of Rice Farmers in Riau Province

Authors: Fara Shaliza
Cited by: 0

Abstract

Produktivitas padi di Provinsi Riau mengalami penurunan akibat bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Peningkatan populasi penduduk menambah tekanan terhadap produksi untuk menjamin ketersediaan dan kecukupan pangan bagi masyarakat. Pemerintah telah mengupayakan kebijakan Riau Bertani untuk meningkatkan luas tanam dan hasil panen padi, namun capaian program tersebut masih terbatas karena lemahnya kemandirian petani. Untuk mengatasi tantangan tersebut, peran kepemimpinan kelembagaan kelompok tani menjadi sangat penting. Pemanfaatan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) merupakan salah satu pendekatan yang berpotensi mengatasi permasalahan kelembagaan kelompok tani melalui peningkatan kapasitas petani dalam mengakses, mengelola, dan memperbarui informasi pertanian secara lebih efektif. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis pengaruh karakteristik individu petani, peran TIK, dukungan penyuluhan pertanian, dan dukungan eksternal terhadap peran kepemimpinan kelompok, (2) menganalisis pengaruh peran TIK, dukungan penyuluhan pertanian, dukungan eksternal, dan peran kepemimpinan kelompok terhadap tingkat kemandirian petani, serta (3) merumuskan model dan strategi penguatan tingkat kemandirian petani berdasarkan hasil analisis faktor-faktor tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang diperkuat oleh data kualitatif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Provinsi Riau pada empat wilayah kabupaten/kota, yaitu Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kabupaten Indragiri Hilir, yang dipilih secara purposive berdasarkan tipologi wilayah pertanian. Sampel penelitian berjumlah 301 responden yang ditentukan dengan teknik stratified random sampling berdasarkan kelas kelompok tani. Pengumpulan data dilakukan pada Januari hingga September 2024 melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, kuesioner terstruktur, dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, dengan pengujian hubungan struktural antarvariabel melalui Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS SEM) menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran TIK berada pada kategori sangat rendah. Kondisi ini menggambarkan bahwa aktivitas petani dalam menggali, menyimpan, dan menyebarluaskan informasi pertanian masih belum optimal. Dukungan penyuluhan pertanian termasuk kategori rendah, sehingga diperlukan peningkatan kompetensi penyuluh, intensitas kegiatan penyuluhan, serta diseminasi manfaat TIK secara lebih luas. Dukungan eksternal juga tergolong rendah, yang menandakan bahwa bantuan dari pemerintah maupun penyuluh swadaya belum berjalan maksimal. Peran kepemimpinan kelompok tani berada pada kategori rendah, menunjukkan bahwa ketua kelompok belum sepenuhnya mampu menjalankan peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan secara efektif. Kondisi tersebut berimplikasi pada rendahnya tingkat kemandirian petani, terutama dalam kemampuan menyaring informasi, berdaya saing, menjalin kemitraan, dan beradaptasi terhadap risiko usaha tani. Secara inferensial, hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu petani, peran TIK, dukungan penyuluhan pertanian, dan dukungan eksternal berpengaruh signifikan terhadap peran kepemimpinan kelompok tani. Selanjutnya, peran TIK, dukungan penyuluhan pertanian, dan kepemimpinan kelompok berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemandirian petani, sementara dukungan eksternal tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kemandirian petani lebih ditentukan oleh kemampuan internal kelompok dalam memanfaatkan informasi dan teknologi, serta efektivitas penyuluhan dan kepemimpinan kelompok tani. Model dan strategi penguatan kemandirian petani yang dihasilkan menekankan pentingnya integrasi antara kepemimpinan kelompok tani, dukungan penyuluhan pertanian, dan pemanfaatan TIK. Sinergi ketiga faktor tersebut membentuk model pemberdayaan yang berorientasi pada penciptaan petani yang berdaya saring terhadap informasi, berdaya saing di pasar, mampu membangun kemitraan agribisnis, serta adaptif terhadap risiko dan dinamika usaha tani. Dengan demikian, model yang dikembangkan tidak hanya relevan untuk penguatan kapasitas individu dan kelompok tani di tingkat lokal, tetapi juga dapat dijadikan acuan strategis bagi kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan di era digital.

Fields of Study & Subjects

Agricultural Development and Management Agricultural Innovations and Practices ICT in Developing Communities

Publication details

Journal / source
IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
Publication date
1 January 2026
Language
ID