Predicting Future Komodo Dragon Habitat Change on Flores Island
Abstract
Komodo (Varanus komodoensis) sebagai spesies kadal terbesar di dunia menghadapi tantangan konservasi di habitat alaminya di Pulau Flores akibat dinamika perubahan lingkungan. Peningkatan aktivitas manusia dan alih fungsi lahan berpotensi menyebabkan fragmentasi habitat yang mengancam arus genetik dan kelangsungan hidup populasi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan perubahan penggunaan dan tutupan lahan Pulau Flores hingga tahun 2050 berdasarkan dua pendekatan manajemen, yakni skenario business as usual dan skenario optimistis, serta mengevaluasi implikasi ekologis dari perubahan tersebut terhadap kualitas habitat komodo. Metode penelitian menggunakan pendekatan spasial berbasis cloud-computing melalui Google Earth Engine untuk mengolah citra satelit Landsat 5 dan Landsat 8. Klasifikasi penggunaan lahan dilakukan secara berkala pada tahun 2000, 2010, 2015, dan 2020. Proyeksi masa depan disimulasikan menggunakan model Patch-generating Land Use Simulation yang mampu mengintegrasikan berbagai faktor pendorong perubahan lahan. Kualitas habitat dan fragmentasi lanskap kemudian dianalisis menggunakan sejumlah indeks lanskap, di antaranya land cover, effective mesh size, number of patches, dan like adjacencies. Hasil analisis menunjukkan bahwa model klasifikasi memiliki performa yang baik dengan tingkat akurasi yang meningkat seiring waktu, mencapai lebih dari 90% pada tahun terakhir pengamatan. Proyeksi tahun 2050 memperlihatkan perbedaan mendasar antara kedua skenario. Skenario business as usual cenderung mengarah pada degradasi kualitas lingkungan yang ditandai dengan persebaran permukiman yang tidak terkendali (urban sprawl) dan fragmentasi habitat yang tinggi meskipun terjadi perluasan pada kelas tutupan hutan musim. Sebaliknya, skenario optimistis menunjukkan pola pemanfaatan ruang yang lebih berkelanjutan dengan permukiman yang lebih terklaster dan pemulihan ekosistem penting seperti hutan mangrove, sehingga menciptakan struktur lanskap yang lebih tangguh (resilience). Simpulan penelitian menegaskan bahwa integritas konektivitas habitat merupakan faktor yang lebih krusial bagi konservasi komodo dibandingkan sekadar penambahan total luasan habitat yang terfragmentasi. Skenario optimistis terbukti lebih efektif dalam menjaga kohesi lanskap yang diperlukan untuk pergerakan jelajah dan aliran gen komodo. Oleh karena itu, strategi konservasi masa depan di Pulau Flores tidak cukup hanya dengan memperluas area lindung, tetapi harus memprioritaskan perlindungan koridor konektivitas fungsional di seluruh bentang lanskap untuk meminimalkan dampak isolasi populasi dan konflik dengan manusia.
Fields of Study & Subjects
Land Use and Ecosystem Services
Wildlife-Road Interactions and Conservation
Remote Sensing and Land Use
Publication details
- Journal / source
- IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
- Publication date
- 1 January 2026
- Language
- ID
- Document type
- Thesis