Ecosystem Model and Competitiveness of Wealth Tech Indonesia

Authors: Priscilla Maulina Juliani Siregar
Cited by: 0

Abstract

Meskipun Indonesia berada pada peringkat ke-130 dunia berdasarkan GDP per kapita, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang secara eksplisit mendefinisikan dan mengembangkan WealthTech sebagai kategori platform tersendiri, berbeda dengan negara lain yang memiliki platform dengan fungsi serupa namun tidak mengklasifikasikannya sebagai WealthTech. WealthTech di Indonesia berperan sebagai platform agregator yang mengintegrasikan berbagai layanan keuangan dan pendukungnya, sehingga keberlanjutan daya saing menjadi prasyarat utama agar mampu bersaing dengan platform lain yang memiliki cakupan layanan lebih luas dan menjadikan WealthTech sebagai salah satu kanal distribusi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan ekosistem WealthTech Indonesia sebagai bagian dari ekosistem agregator, (2) menganalisis faktor-faktor penentu daya saing WealthTech Indonesia, serta (3) merancang model dan peta jalan (roadmap) strategi pengembangan ekosistem WealthTech Indonesia. Tujuan tersebut dicapai melalui pendekatan bertahap yang meliputi studi literatur dan benchmarking internasional untuk pemetaan ekosistem dan analisis kesenjangan, pengumpulan data primer melalui observasi, kuesioner, dan wawancara pakar untuk analisis faktor daya saing, serta perumusan model ekosistem dan roadmap strategi lima tahun melalui wawancara pakar dan klasifikasi matriks. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan integrasi analisis benchmarking, teori ekosistem bisnis, Diamond Porter, SEM-PLS, VRIO, serta ISM–MICMAC, dengan data primer dan sekunder dari Indonesia serta studi pembanding di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Republik Rakyat Tiongkok pada periode 2021–2025. Hasil penelitian menegaskan bahwa WealthTech Indonesia lebih tepat dipahami sebagai platform-based ecosystem orchestrator yang mengelola akses, aliran data, dan koordinasi lintas aktor. Oleh karena itu, daya saing berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya internal, tetapi juga oleh kapabilitas orkestrasi, kapabilitas adaptif, serta relasi ko-evolutif dengan regulator melalui strategi non-pasar. Temuan menunjukkan bahwa ekosistem WealthTech Indonesia masih berada pada fase emerging ecosystem yang cenderung terfragmentasi, sehingga penciptaan nilai bersama, interoperabilitas layanan, dan efek jaringan belum optimal. Dalam konteks ini, faktor kelembagaan khususnya regulasi, tata kelola data, dan keamanan siber menjadi prasyarat utama dalam membangun kepercayaan dan mendorong adopsi layanan. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan bahwa Diamond Porter tetap relevan, namun memerlukan perluasan indikator agar mampu menjelaskan dinamika ekosistem digital yang dinamis dan highly regulated. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan Diamond Porter Extended yang mengakomodasi integrasi layanan, orkestrasi aktor, transformasi digital, serta peran regulasi sebagai determinan strategis. Integrasi metode SEM-PLS, VRIO, dan ISM–MICMAC membentuk kerangka multidimensi yang konsisten dengan literatur ekosistem digital dan menunjukkan bahwa penguatan WealthTech perlu dilakukan secara bertahap dan terintegrasi melalui penguatan tata kelola, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Secara empiris, penelitian ini mengidentifikasi 19 faktor utama pembentuk ekosistem dan daya saing WealthTech Indonesia. Namun demikian, faktor-faktor tersebut masih bersifat parsial dan belum terorkestrasi secara optimal, terutama dalam aspek integrasi layanan, pemanfaatan data, dan kesinambungan pengalaman pengguna lintas produk. Hasil SEM-PLS dan VRIO menunjukkan bahwa meskipun terdapat hubungan kausal yang signifikan antar faktor daya saing, sebagian besar kapabilitas WealthTech Indonesia belum memenuhi kriteria keunggulan kompetitif berkelanjutan karena masih mudah ditiru dan belum terintegrasi secara sistemik. Dengan demikian, keunggulan kompetitif WealthTech Indonesia saat ini masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika regulasi dan teknologi. Berdasarkan integrasi SEM-PLS, VRIO, dan ISM–MICMAC, penelitian ini merumuskan model ekosistem dan daya saing WealthTech Indonesia melalui perluasan Diamond Porter klasik menjadi Diamond Porter Extended, yang menempatkan regulasi, infrastruktur, inovasi, dan faktor lingkungan makro sebagai driving factors utama dalam struktur hierarkis ekosistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka daya saing WealthTech berbasis ekosistem melalui pendekatan multi-metodologi terintegrasi serta reframing Diamond Porter agar relevan dengan karakteristik industri digital yang sangat teregulasi. Implikasi manajerial menekankan pergeseran strategi dari fokus perusahaan individual menuju orkestrasi ekosistem yang kolaboratif dan berkelanjutan, dengan regulator berperan sebagai ecosystem orchestrator, pelaku industri sebagai penyedia solusi keuangan terintegrasi berbasis nilai tambah, dan akademisi sebagai penguat landasan teoretis serta evaluasi kebijakan berbasis bukti. Keterbatasan penelitian ini membuka peluang riset lanjutan, khususnya pada validasi implementatif model, perluasan aktor ekosistem, serta pengujian adaptabilitas Diamond Porter Extended pada sektor digital teregulasi lain seperti kesehatan, logistik, dan energi.

Fields of Study & Subjects

FinTech Crowdfunding Digital Finance Digital Transformation in Financial Services Digital Platforms and Economics

Publication details

Journal / source
IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
Publication date
1 January 2026
Language
ID