Imprints of Climate Teleconnections on Seasonal Rainfall Variability and Meteorological Drought in West Java

Authors: Dwi Yoga Primartono
Cited by: 0

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana pola interaksi laut–atmosfer memengaruhi curah hujan musiman dan kekeringan meteorologis di Provinsi Jawa Barat, salah satu sentra pangan nasional. Penelitian memanfaatkan data curah hujan harian dari 313 pos hujan periode 1991–2020. Kemudian proses pengendalian mutu data dilakukan berdasarkan kriteria WMO. Pengisian data harian hujan yang kosong dengan menggunakan teknik interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW), sehingga menghasilkan data deret hujan harian yang lengkap dan konsisten pada berbagai kelas ketinggian. Curah hujan harian kemudian dijumlahkan menjadi hujan bulanan dan musiman untuk empat musim utama, yaitu Desember–Februari, Maret–Mei, Juni–Agustus, dan September–November. Data ini dikaitkan dengan kombinasi fase El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang diturunkan dari indeks laut standar. Analisis komposit dilakukan untuk menilai perubahan relatif curah hujan musiman terhadap kondisi netral pada setiap kombinasi fase ENSO–IOD. Kekeringan meteorologis ditakar menggunakan metode Standardized Precipitation Index skala tiga bulanan (SPI-3). Penelitian ini mengidentifikasi episode kekeringan sebagai rangkaian sedikitnya dua bulan berturut-turut dengan SPI-3 = -1,0, dan hanya bulan di dalam episode yang diklasifikasikan sebagai bulan kering. Berdasarkan episode ini dihitung peluang bulan kering, baik di tingkat stasiun maupun setelah diagregasi menjadi peluang gabungan untuk tingkat provinsi. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa Juni–Agustus dan September–November merupakan periode kunci risiko kekeringan di Jawa Barat. Fase IOD positif secara konsisten menekan curah hujan musiman dan meningkatkan peluang terjadinya bulan kering pada skala provinsi secara tajam, yang umumnya melampaui 60%. Ketika beriringan dengan fase ENSO positif, peningkatan risiko ini tetap kuat, terutama pada September–Oktober. Peluang tertinggi yang mendekati 75% pada September–November terlihat pada kondisi IOD positif saja dan tidak selalu membutuhkan fase ENSO positif secara bersamaan. Sebaliknya, fase negatif ENSO dan IOD cenderung menghasilkan kondisi lebih basah dan menurunkan peluang bulan kering secara nyata. Penelitian ini menghasilkan dataset hujan harian yang telah tervalidasi untuk periode 1991–2020, komposit anomali hujan musiman yang dikondisikan pada kombinasi fase ENSO–IOD, serta indikator probabilistik bulan kering berbasis SPI-3 pada skala provinsi. Ketiga produk ini menyediakan dasar kuantitatif untuk peringatan dini musiman, perencanaan pertanian berbasis risiko iklim, dan pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat, serta dapat diintegrasikan ke dalam layanan iklim operasional.

Fields of Study & Subjects

Climate variability and models Hydrology and Drought Analysis Climate change impacts on agriculture

Publication details

Journal / source
IPB Scientific Repository (Bogor Agricultural University.)
Publication date
1 January 2026
Language
ID
Document type
Thesis