TERTIB ADMINISTRASI (ORGANISASI GEREJA) ADALAH REPRESENTASI DARI KETATAAN KEPADA ALLAH
Abstract
Dalam kehidupan jemaat, kata “taat” sering terdengar sederhana, namun ia menyimpan kedalaman rohani yang menguji kejujuran hati. Taat bukan sekadar tindakan mengikuti perintah, melainkan kesediaan batin untuk menundukkan kehendak pribadi di bawah kehendak yang lebih luhur. Dalam tradisi iman Kristen, ketaatan selalu terkait dengan relasi, sebab seseorang taat bukan kepada gagasan abstrak, melainkan kepada Pribadi yang dikenal dan dipercayai. Karena itu, taat selalu memiliki dimensi afektif, yakni keterikatan hati yang membuat seseorang tidak merasa dipaksa, tetapi tergerak. Pada sisi lain, definisi administrasi gereja dalam konteks modern juga berkaitan dengan tata kelola, yakni bagaimana struktur, partisipasi, dan mekanisme pengambilan keputusan diatur. Jika taat adalah sikap batin yang tunduk kepada kehendak yang benar, dan administrasi adalah cara menata proses serta tanggung jawab, maka taat dalam administrasi adalah perjumpaan keduanya dalam tindakan nyata. Taat administratif bukan berarti memuja aturan, melainkan menghormati tujuan baik yang dilindungi oleh aturan. Taat administratif berarti menjaga prosedur bukan karena takut disalahkan, tetapi karena sadar bahwa ketidakrapian bisa merugikan orang lain dan merusak kepercayaan. Taat administratif juga berarti bersedia dicatat, dinilai, dan diperiksa, sebab transparansi adalah bagian dari integritas. Dalam praktik gereja, taat administratif tampak ketika pelayan bersedia menyerahkan laporan, menyimpan bukti pengeluaran, dan tidak merasa “terganggu” oleh kebutuhan dokumentasi
Fields of Study & Subjects
Contemporary Christian Leadership and Education
Theology and Canon Law Studies
Religious and Theological Studies
Publication details
- Journal / source
- Neliti
- Publication date
- 20 February 2026
- Language
- ID
- Document type
- Book